Psikologi
dan Teknologi Internet
Anggota
Kelompok :
1. Annisa Zulfa (10518960)
2.
Fatin Nabilah (12518598)
3.
Putri Nugraheni (15518658)
4.
Wanda Indriani (17518305)
I. VIRTUAL IDENTITY
Teknologi
komunikasi di era digital sekarang memungkinkan manusia berinteraksi tanpa
harus bertatap muka, menyapa tanpa berkata langsung, dan melihat tanpa harus
datang ke tempat kejadian. kecanggihan teknologi komunikasi mengakibatkan
pergeseran elemen-elemen yang ada dalam masyarakat penggunanya, elemen tersebut
bisa berupa berbagi hal, dari ranah sosial hingga budaya. pergeseran budaya
dari konvensional menjadi digital, budaya digital inilah yang populer dengan
nama cyberculture.
Cyberculture merupakan
olahan kreasi dari manusia itu sendiri, mereka membuat berbagai macam tanda
sebagai eksistensi dirinya dalam ruang lingkup cyber, baik individu
maupun golongan. Cyberculture yang terdapat dalam dunia cyberspace,
yang mana cyberspace merupakan produk dari komputer dan
internet telah mendorong orang mulai mempertimbangkan alternatif
realitas-realitas lain di luar realitas kehidupan sehari-hari. Tanda-tanda
tersebut telah ada selama ini, yang kemudian dikenal sebagai virtual
identity.
Virtual
identity dalam beberapa pembahasan memiliki beberapa fungsi dan
manfaat, dalam pandangan lain virtual identity dianggap membawa bencana lain
bagi budaya, racun bagi kalangan tertentu, candu yang memabukkan dan perusak
hubungan tertentu. kekhawatirannya sudah dirasa meresahkan. Tidak dapat
dipungkiri bahwa saat ini kita berada dalam konteks digitalisasi, dimana
antarindividu terhubung melalui jaringan internet menciptakan dunia baru: dunia
virtual. Sama halnya dalam kehidupan nyata, tiap individu memiliki identitas
yang ingin ditampilkan dan mempengaruhi bagaimana interaksi dengan individu
lainnya dalam dunia virtual. Identitas virtual (virtual identity)
menjadi pembeda tiap individu dalam kehidupan virtual. Dalam berbagai konteks,
identitas virtual ini menjadi alter ego seseorang dalam kehidupan nyatanya.
Tidak lah heran jika kemudian apa yang ditampilan pada dunia maya menjadi
identitas palsu seseorang.
Hal
ini dikarenakan banyak orang yang merasa tidak puas dengan keadaan diri mereka
di dunia nyata, sehingga mereka cenderung melarikan diri ke dunia maya dan
membuat tempat tinggal yang mereka harapkan untuk memenuhi kebutuhan psikologi
mereka akan eksistensi diri. Melalui karakter yang mereka buat dalam
media-media yang ditawarkan seperti media sosial facebook, twitter, blog,
email, bahkan game online. Mereka mengekspresikan diri mereka menjadi diri yang
mereka kehendaki.
Kebutuhan
manusia akan eksistensi diri merupakan kebutuhan yang mendasar setelah
kebutuhan primer. Kebutuhan agar merasa dianggap oleh orang lain, yang akan
memberikan nilai pada diri mereka. Melalui identitas maya mereka bisa menemukan
cara agar lebih diakui oleh orang lain. Hal-hal yang tidak bisa dilakukan di
dunia nyata, bisa mereka lakukan di dunia maya tanpa harus takut akan ketahuan
siapa mereka sebenarnya. Dunia maya menawarkan anonimitas identitas sehingga
orang-orang lebih bebas berekspresi. Selain anonimitas, dunia maya juga
menawarkan multiple identity yaitu kemungkinan bagi seseorang
untuk memiliki lebih dari satu identitas di dunia maya.
Anonimitas dalam sosial media menjadi interaksi yang cenderung negatif. Semua
orang bisa bersembunyi dibalik nama, foto dan biografi hebat seseorang. Namun
ujung-ujungnya, banyak yang tertipu akan satu akun. Dalam hal ini, akun anonim
dibuat untuk aktifitas yang tidak baik. Tetapi banyak pula akun anonim yang
berdasar niat baik berbagi. Identitas menjadi
penting bagi beberapa platform sosial media. Kita bisa lihat, di Twitter banyak
akun artis, politisi, atau public figure yang terverfikasi
dengan centang biru. Kabarnya, kita butuh nomor telpon yang paten, dan beberapa
puluh (ratus) mention agar akun kita menjadi verified. Begitupun juga dengan
Facebook yang menyematkan badge biru serupa Twitter. Instagram, Pinterest,
Google+ pun kini menerapkan sistem verifikasi akun.
Identitas seseorang di dunia maya biasanya dibuat berdasarkan penilaian
terhadap diri mereka di dunia nyata. Dengan demikian, mereka bisa mengembangkan
diri mereka dengan sebaik-baiknya saat mereka beraktivitas di dunia maya.
Memenuhi kebutuhan mereka akan pengakuan dari orang lain dan pengakuan dari
diri sendiri. Pengakuan ini akan memberikan kepuasan secara psikis bagi orang
tersebut. Hal tersebut akan membuat mereka lebih percaya pada diri mereka
sendiri.
Dalam perkembangan individu untuk membentuk konsep dan persepsi diri terhadap
diri sendiri dan orang lain, mereka membutuhkan nilai-nilai yang akan menjadi
pedoman dalam melakukan interaksi. Ketika nilai yang mereka percaya sesuai
dengan konsep diri yang mereka bangun, maka mereka akan lebih bisa dalam
mengembangkan karakter diri yang lebih baik. Daripada ketika nilai tersebut,
tidak sesuai dengan konsep diri yang mereka miliki. Ketika hal tersebut
terjadi, mereka akan cenderung untuk menghindari interaksi dengan orang lain.
Hal tersebut akan berpengaruh terhadap nilai diri mereka, dan mereka tidak
merasa puas sehingga mereka beralih ke dunia maya untuk menutupi kekurangan
tersebut.
II.
PEMBAHASAN
Menurut Stella
Ting Toomey, Identitas merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang
berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Identitas
pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang lain
terhadap diri kita. Sementara itu, Gardiner W.
Harry dan Kosmitzki Corinne melihat identitas sebagai
pendefinisian diri seseorang sebagai individu yang berbeda dalam perilaku,
keyakinan dan sikap. “A virtual identity is a persona that is implied when
communicating online” (Jacob van Kokswijk, 2006). von Kokswijk
menambahkan bahwa identitas virtual atau identitas online merupakan tampilan
diri seseorang dalam dunia maya (online), yang mana ia bebas menentukan ingin
menjadi apa dalam dunia maya tersebut, sehingga level of trurth identitas
tersebut sangat kecil dan mampu berubah-ubah sesuai dengan keinginan individu
tersebut. Orang bisa saja menjadi lebih pintar, lebih seksi, lebih kasar dan
bahkan lebih gila dalam dunia virtual.
berikut
identitas pengertian dari beberapa jenis identitas diri:
- Identitas seksual
Identitas seksual mengacu pada identifikasi seseorang dengan berbagai kategori
seksualitas. Bisa berupa heteroseksual, gay, lesbian dan biseksual. Identitas
seksual yang kita miliki akan mempengaruhi apa yang kita konsumsi. Program
televisi apa yang akan kita lihat atau majalah apa yang akan kita baca.
Identitas seksual juga dapat mempengaruhi pekerjaan seseorang.
- Identitas gender
Identitas gender merupakan pandangan mengenai maskulinitas dan feminitas dan
apa arti menjadi seorang laki-laki atau perempuan. Arti menjadi seorang
perempuan atau laki-laki sangat dipengaruhi oleh pandangan budaya. Misalnya
saja kegiatan yang dianggap lebih maskulin atau lebih feminim. Ungkapan gender
tidak hanya mengkomunikasikan siapa kita, tetapi juga mengkonstruksi rasa yang
kita inginkan. Identitas gender juga ditunjukkan oleh gaya komunikasi. Gaya
komunikasi perempuan sering digambarkan sebagai suportif, egaliter, personal
dan disclosive, sedangkan gaya komunikasi laki-laki digambarkan
sebagai kompetitif dan tegas.
- Identitas pribadi
Identitas pribadi merupakan karakteristik unik yang membedakannya dengan orang
lain. Setiap orang mempunyai identitas pribadinya masing-masing sehingga tidak
akan sama dengan identitas orang lain. Pengaruh budaya juga turut mempengaruhi
identitas pribadi seseorang. Orang yang berasal dari budaya individualistis
seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat berusaha untuk menunjukkan perbedaan
dirinya dengan orang lain. Sementara itu, orang yang berasal dari budaya
kolektif cenderung menonjolkan keanggotaan mereka kepada orang lain. Identitas
pribadi juga bisa diartikan sebagai aturan moral pribadi atau prinsip moral
yang digunakan seseorang sebagai kerangka normatif dan panduan dalam bertindak.
- Identitas agama
Identitas agama merupakan dimensi yang penting dalam identitas seseorang.
Identitas tersebut merupakan pemberian secara sosial dan budaya, bukan hasil
dari pilihan individu. Hanya pada era moderm, identitas agama menjadi hal yang
bisa dipilih, bukan identitas yang diperoleh saat lahir. Identitas agama
ditandai dengan adanya ritual yang dilakukan oleh pemeluk agama tersebut.
Identitas agama juga ditandai dengan busana yang dipakai.
- Identitas nasional
Identitas nasional merujuk pada kebangsaan seseorang. Mayoritas dari masyarakat
mengasosiasikan identitas nasional mereka dengan negara di mana mereka
dilahirkan. Akan tetapi, identitas nasional dapat juga diperoleh melalui
imigrasi dan naturalisasi. Identitas nasional biasanya menjadi sering diucapkan
saat seseorang berada di negara lain. Orang yang identitas nasionalnya berbeda
dari tempat ia dilahirkan pada akhirnya akan mulai mengadopsi aspek identitas
nasional yang baru. Namun, hal ini tergantung pada keterikatan pada negara yang
baru tersebut. Sementara itu, orang yang secara permanen tinggal di negara lain
mungkin akan mempertahankan identitas negara tempat ia lahir.
Dengan munculya cyberspace, maka bertambah pula space atau dunia
baru yang bisa untuk dimasuki. Untuk masuk ke dunia tersebut, para user atau
pengguna cyberspace, membuat identitas diri mereka sendiri, yang
belum tentu sesuai dengan identitas mereka ada dunia nyata. Hal inilah yang
nanti akan menyebabkan munculnya virtual identity (identitas
virtual), dan dewasa ini sudah banyak digunakan oleh para pengguna internet.
Sebelum menyantap apa itu virtual identity, terlebih dahulu kita
harus menyadari akan realitas virtual (virtual reality) karena virtual
identity merupakan bagian dari realitas virtual itu sendiri. realitas virtual
adalah sebuah teknologi yang mampu mengemulasi dan menciptakan pelbagai
realitas. dalam kalimat lain teknologi realitas visual adalah upaya untuk
menerjemahkan mimpi menjadi keboleh jadian elektronis ( budiman, 2002 ).
Menurut budiman (2002) realitas virtual lahir karena manusia merasa bahwa
“realitas” saja tidak cukup. dan yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah
soal tumbuhnya rasa dan bukan kenyataan aktual tentang itu.
Substansi gagasan tentang virtualitas pada dasarnya adalah bagaimana spesies
manusia akan dilibatkan, tanpa mengetahuinya , dalam tugas pemprograman kode
untuk pelenyapan dunia secara otomatis, karena memang sudah tidak ada lagi
dunia yang asli ( baudrillard, 1995; 102).
Menurut Yasraf Amir Piliang, realitas virtual bukan merupakan sesuatu yang
real, melainkan realitas lain, disebut realitas karena sesuatu yang bersifat
materi dan objektif, yang hanya dikenali dan dipahami lewat mekanisme intuisi
dan indra, membawa kita pada pandangan materialisme mengenai
realitas. munculya sebuah realitas lain merupakan bentuk dari realitas yang
sudah ada, dan merupakan sebuah pengembangan.
Oleh sebab itu dengan semakin berkembangnya realitas virtual, dengan itu pula
terciptalah cyberspace. Di dalam cyberspace tersebut
terdapat ruang-ruang, yang diantaranya adalah cyberculture (budaya
digital) dan cybersociety (ruang sosial digital).
Sekarang ini, ruang sosial yang ada di dunia nyata, kini dapat dicarikan
substansinyaa di dalam dunia digital ( cyberspace). menurut (amir
piliang, 2004) cyberspace juga telah mempengaruhi kehidupan sosial di luar
ruang, setidaknya ada tiga tingkat pengaruhnya, yaitu :
- Pada tingkat individual
Cyberspace telah
menciptakan perubahan yang mendasar tentang identitas. sistem komunikasi di
jembatani oleh komputer, dan hal tersebut telah melenyapkan batas-batas
identitas itu sendiri di dalamnya. dalam arti lain menjadi orang yang
berbeda-beda identitasnya di waktu yang bersamaan. menjadikan semacam kekacauan
identitas, yang akan memperngaruhi persepsi, pikiran, personalitas dan gaya
hidup. bila semua orang bisa memakai identitas apapun, maka tidak ada lagi yang
namanya identitas itu sendiri.
- Pada tingkat antar individu/kelompok
Perkembangan komunitas virtual didalam cyberspace telah
menciptakn relasi-relasi sosial yag bersifat virtual di ruang-ruang virtual
(virtual shopping, virtual game, virtual conference, virtual
sex, dan virtual mosque). relasi-relasi sosial virtual tersebut
telah menggiring ke arah semacam deteritorialisasi sosial (social
deterritorialization), dalam pengertian, bahwa beragai interaksi sosial
masa kini tidak memerlukan lagi ruang dan teritorial yang nyata (dalam
pengertian konvensional), melainkan halusinasi teritorial. didalamhalusinasi
teritorial tersebut, orang boleh jadi lebih dekat secara sosial dengan yang
jauh secara teritorial, ketimbang seseorang yang dekat secara teritorial, akan
tetapi jauh secara sosial.
- Pada tingkat masyarakat
Cyberspace diasumsikan
dapat menciptakan satu model komunitas demokratik dan terbuka yang disebut
rheingold komunitas (imaginary community). didalam komunitas
konvensional, anggota masyarakat memiliki kebersamaan sosial (social sharing)
dan solidaritas sosial (social solidarity) menyangkut sebuah tempat
(desa, kampung, atau kota) yang didalamnya berlangsung interaksi sosial face
to face. didalam komunitas virtual diperlukan imajinasi kolektif tentang
tempat (place) tersebut, yang tidak ada didalam sebuah ruang nyata (real
space), melainkan sebuah tempat imajiner (imaginary place) yang
berada didalam ruang bit-bit komputer.
Kekhawatiran lainnya dari virtual identity bagi individual
yang menyalah gunakan fasilitas dunia cyber mengakibatkan mereka
terlalu bebas dengan identitasnya. Sampai dimana pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab tersebut, mungking hanya berani unjuk gigi dan berkomentar
didunia cyber, khususnya media sosial. mereka hanya akan berani
berkata-kata tanpa harus bertatap muka secara langsung, dengan objek atau
individu yang menjadi sasarannya.
Demografi
pengguna atau user sosmed dibagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama yaitu :
- primary participators.
Kelompok ini adalah pembuat konten dan informasi yang ada di dunia maya dan
sosmed.
- secondary participators yang
biasanya mengkonsumsi informasi. Mereka juga tidak langsung berkontribusi
informatif dengan men-tag, ranking, like, tweet, dll.
- lurkers,
Kelompok ini hanya mengkonsumsi informasi. Lurkers ini
jumlahnya melebihi dua kelompok lain.
Untuk primary dan secondary participators, mereka
adalah generasi Y dan Z di abad 21 ini. Kedua generasi adalah mereka yang melek
dunia teknologi digital.
Mereka besar dan dibesarkan dengan teknologi sejak dini. Sedang untuk lurkers,
generasi ini lebih kepada generasi V, W dan beberapa X. Mereka ini adalah ‘immigrant’ dalam
dunia teknologi.
III. Self
Constructed Digital Identity
Dari
demografi ini, akan terlihat benang merah identitas kita di sosmed. Jauh
sebelum ada sosmed dengan akun anonim, prinsip identitas dramaturgis ditelaah
oleh Goffman. Pada dasarnya kita ingin mencitrakan diri saat berkomunikasi.
Komunikasi menjadi serupa drama. Disini ada aktor dan penonton yang terlibat.
Sehingga, ada beberapa phase drama penciptaan identitas diri yang ingin
diciptakan:
- Pertama, front stage
identity. Dimana pelaku komunikasi (aktor) memilah dan memilih kostum,
aksen, gaya bicara, gestur, dll dalam interaksi. Identitas yang muncul adalah
keinginan dan harapan dari citra yang ditimbulkan.
- Kedua, back stage identity.
Dimana pelaku sejatinya juga memiliki identitas ‘rahasia’. Terlepas
pencitraan yang dibuat dan ditampilkan. Ada sisi dalam diri si aktor
dimana penonton tidak perlu mengetahui.
Kedua fase ini menjadi gambaran apa yang terjadi dari akun sosmed yang kita
buat. Sosmed bisa menjadi representasi dari diri kita. Ataupun, sosmed menjadi
ektension dari diri kita yang lain. Dalam hal ini, representasi diri menjadi
diri sendiri baik di dunia nyata dan maya. Namun menjadi diri lain (ekstension)
pun bisa dilakukan di sosmed. Ada front stage identity yang
ingin kita tunjukkan. Namun di satu sisi, dan pada saat bersamaan ada ruang
untuk back stage identity.
Memahami identitas di sosmed pun menjadi langkah penting memahami literasi
digital. Sebuah wacana yang saat ini mungkin sangat dibutuhkan. Alih-alih
memahami determinasi teknologi semata, ada literasi kritis yang juga dikandung
teknologi. Determinasi teknologi adalah sisi fungsional dari teknologi. Sedang
sisi literasi kritis lebih menyorot ranah dunia teknologi memiliki kultur,
kekuasaan dan kepopuleran tersendiri.
Singkatnya,
kita dapat meringkas Manajemen Identitas Digital dalam 5 tingkatan yang
berbeda:
- Manajemen
Data Manajemen Data menentukan cara menyimpan, mengamankan, mengubah,
mengambil, dan mengarsipkan data tentang seseorang. Ini juga perlu menentukan
cara menghapus informasi pribadi yang dapat diidentifikasi.
- Otentikasi
Pengguna memberikan bukti bahwa mereka adalah siapa yang mereka klaim.
Contohnya adalah login melalui kata sandi, otentikasi perangkat atau 2-faktor,
atau otentikasi pengguna biometrik melalui sidik jari atau pengenalan wajah.
- Verifikasi
Langkah verifikasi memeriksa apakah otentikasi dan bukti identitas yang
diberikan valid, dan informasi yang diberikan benar dan sejalan dengan data
yang disimpan sebelumnya.
- Akses
Akses mengacu pada hak pengguna untuk mengakses akun mereka, dan hak pengguna
atau pihak ketiga untuk mengakses informasi pribadi yang dapat diidentifikasi.
- Antarmuka
Pengguna dapat berinteraksi dengan layanan dan akan melihat informasi yang
relevan dengan dan ditargetkan pada profil penggunanya.
Elemen
yang membentuk identitas digital :
Konstruksi identitas digital dikondisikan oleh banyak elemen, di antaranya
menonjol:
- Profil pribadi :
Baik di jejaring sosial seperti: Facebook atau Instagram, media sosial
profesional seperti LinkedIn, pencarian pekerjaan portal atau layanan
online lainnya;
- Komentar yang
dibuat di forum, blog, jejaring sosial, dll ;
- Konten yang
diunggah ke jaringan, baik: foto, video, presentasi, pos, dan lain-lain.
Jaringan kontak dalam dunia digital: teman, kolega, pengikut, dan
orang-orang yang kita ikuti;
- Alamat email
, penggunaan yang berikan, dan seberapa terlihatnya;
- Layanan Pesan instan yang
gunakan: Whatsapp, Telegram, Facebook, Messenger, Line;
- Nick atau alias yang
digunakan;
- Avatar yang
dipilih untuk profil.
IV.
Tantangan Manajemen Identitas Digital
- Kepercayaan dan Keamanan
Orang cenderung tidak percaya pada organisasi atau pemerintah untuk melindungi
informasi pribadi mereka. Di sisi lain, anonimitas kehadiran online membuatnya
juga sangat sulit bagi penyedia layanan untuk mengidentifikasi pengguna dengan
benar, yang dapat menjadi faktor risiko yang besar. Oleh karena itu penyedia
perlu mengandalkan proses otentikasi yang biasanya rumit dan memakan waktu bagi
pengguna, dan mahal untuk organisasi.
- Persetujuan dan Kontrol
Selain dari pelanggaran data, pengguna juga semakin khawatir tentang penggunaan
data pribadi mereka.
- Kepemilikan
Serupa dengan kepercayaan dan persetujuan, kepemilikan adalah masalah utama
bagi Manajemen Identitas Digital. Siapa yang memiliki data pribadi? Siapa yang
memiliki informasi pribadi yang dapat diidentifikasi, dan siapa yang dapat
mengambil manfaat darinya? Saat ini, banyak perusahaan internet seperti Google
dan Facebook mendasarkan model bisnis mereka pada iklan.
- Pengalaman Pelanggan
Berlawanan dengan identitas fisik, volume pengidentifikasi digital meningkat.
Setiap pengguna harus mengelola banyak akun, login, dan lingkungan yang
semuanya menyimpan beberapa informasi pribadi. Sebuah survei baru-baru ini
menemukan bahwa 61% responden menggunakan kata sandi mereka di beberapa situs. Ini
membutuhkan pengalaman pelanggan yang lebih baik dan solusi integrasi saluran.
- Biaya dan kekokohan infrastruktur
Sistem saat ini tidak cukup kuat untuk melindungi data dari dicuri oleh pihak
ketiga. Selain sebagai risiko keamanan, penyimpanan pusat dari sejumlah besar
informasi pribadi yang dapat diidentifikasi juga membawa harga besar biaya
infrastruktur.
- Organisasi dan pemerintah bertindak
Baik pemerintah dan organisasi bekerja keras untuk menemukan solusi untuk
masalah ini. Kolaborasi multi-pemangku kepentingan tentang Digital Identity
telah diluncurkan pada Januari 2018. Dalam konteks ini, Kristalina Georgieva,
Kepala Eksekutif Bank Dunia, mengumumkan untuk mengamankan lebih dari $ 750
juta investasi dalam proyek-proyek terkait ID dalam tiga tahun ke depan. OECD
baru-baru ini menyatakan identitas dan inklusivitas sebagai tren teratas dalam
inovasi pemerintah.
Akibatnya, tidak mengherankan bahwa baik pemerintah dan organisasi
mempertimbangkan, atau harus mempertimbangkan, Blockchain dan Teknologi Ledger
Terdistribusi dalam pencarian mereka untuk solusi Digital Identity.
V.
Pencurian identitas digital dan cara menghadapinya
- Gunakan pengaturan privasi
Pengaturan
privasi dapat mengontrol seberapa terlihat informasi dan foto di mesin pencari,
dan juga bagaimana mereka dibagikan. Semua situ mengizinkan anda untuk mengatur
privasi anda sendiri, memilih informasi apa sajakah yang ingin anda perlihatkan
secara publik.
- Privasikan foto atau informasi anda
yang telah ditanda oleh teman
Penandaan
adalah sebuah fitur yang mengizinkan anda untuk mengaitkan nama teman beserta
foto mereka. Jika anda ingin tidak semua orang dapat melihatnya, anda dapat
menyesuaikannya di pengaturan dengan memilih “Hanya Saya”, atau yang lainnya.
Karena penandaan foto juga dapat memicu orang mengambil foto anda tanpa izin,
anda harus lebih berhati-hati dalam membagikan sesuatu.
- Jangan membagikan informasi yang
dapat membuat orang lain mencuri identitas atau lokasi anda
Anda
juga harus waspada ketika membagian informasi pribadi, jangan memberikan password anda
kepada orang lain, jangan membagikan alamat anda secara umum karena dapat
memicu orang untuk melakukan hal yang buruk. Kurangi penulisan biodata yang
lengkap di sosial media serta lindungi informasi anda yang rahasia.
- Izinkan akses hanya kepada orang
yang anda percaya
Ini
bertujuan agar tidak banyak yang mengetahui tentang informasi anda, dan anda
dapat mengontrol jangkauan publikasi anda.
- Berhati-hati ketika ingin melakukan
sesuatu di internet
Ketika
anda ingin mem-posting sesuatu, baik itu informasi atau pendapat,
anda harus lebih berhati-hati dan gunakanlah bahasa yang sopan agar tidak ada
orang yang tersinggung.
- Pantau informasi anda di mesin
pencari
Anda
harus sering memantau nama anda, agar anda tahu apa saja informasi yang keluar
jika anda mencari akun anda di setiap mesin pencari.
- Keluarkan akun anda
Jika
anda sudah selesai online, jangan lupa untuk mengeluarkan akun
anda sekalipun itu di gadget anda sendiri, agar dapat
mengurangi terjadinya pembajakan atau hal-hal buruk lainnya.
Pada
akhirnya, manusia akan menjadi teralienasi dengan lingkungan sosial dengan
lingkungan sekitar mereka, karena mereka sibuk dengan gadget masing-masing.
Mereka terjebak dalam pencitraan di dunia virtual, baik dalam menciptakan
citranya sendiri maupun dalam memandang manusia lain. Ini pun sesuai dengan
pernyataan Baudrillard, “kita terbiasa hidup dalam cermin fantasi, dalam diri
yang terbagi dan dalam alienasi.” Manusia saat ini terhubung dengan berbagai
aplikasi media sosial yang membantu mereka untuk terhubung dengan manusia lain
yang bisa berjarak ribuan mil melalui layar dan jaringan. Namun pada saat yang
sama membuat jarak dengan mereka yang dekat dan mengalienasi mereka dengan
lingkungan sosialnya. Manusia pun terjebak menjadi mahluk citra, baik dalam
artian secara harfiah maupun secara kiasan.
Daftar Pustaka
- https://www.kompasiana.com/girilu/583d6d992cb0bd96066c544d/memahami-identitas-diri-di-sosial-media
- http://binus.ac.id/malang/2018/07/virtual-identity-false-identity/
- https://www.kompasiana.com/oktianchandra/573aad07b17a612907d6f96d/identitas-diri-antara-dunia-maya-dan-realita-virtual-identity?page=all
- https://www.kompasiana.com/komunikasi/552fb71c6ea834b3238b45d0/identitas-di-dunia-maya-sebagai-bentuk-pemuasan-diri
- https://www.syneidis.com/protect-digital-identity/
- http://scrypt.media/2018/10/02/blockchain-digital-identity-management/
- https://dheaaprl21.wordpress.com/2019/04/29/manajemen-identitas-dalam-dunia-maya/
- https://agathamayang.wordpress.com/2019/04/21/manajemen-identitas-dalam-dunia-maya/

Comments
Post a Comment